Jodoh dan kematian adalah rahasia-Nya yang
tersembunyi dalam tabir keghaiban-Nya dan tersimpan dengan indah dalam tiap lembar daun di lauhulmahfuzh. Lalu apa yang di khawatirkan?
Dan kenapa pula harus mengejar? Pernahkah kau jatuh cinta? Ku akui aku pun juga, tapi pantaskah bagi kita mengumbar rasa itu? Rasa
yang entah akan berlabuh dimana. Lalu pikirkan, jika dia yang kau cinta, yang mengganggu tidurmu, membuatmu menangis karena rindu, ternyata bukan atau mungkin tak akan pernah menjadi pendampingmu, atau bukan kau yang di pilih dia? Tak malukah? Lalu apa masih mampu kau tatap wajah pendampingmu kelak dengan cinta yang seutuhnya jika ternyata dulu kau pernah menaruh separuh hatimu pada orang lain. Tak cemburukah? Jika saat ini seseorang yang kau pilih kelak sedang menyerahkan hatinya pada orang lain, namun ternyata kau yang akan bersamanya nanti. Tak sakit hatikah? Bila ketika bersamamu, ternyata dia tengah membandingkanmu dengan sosok lain dalam hatinya. Tak pernah bosan ku ingatkan, bahwa yang
akan berlaku tetaplah ketetapan-Nya. Lalu buat apa memubazirkan waktumu? Untuk apa kau kuras energi? Karena apa kau habiskan air matamu? Untuk orang yang belum tentu menjadi milikmu. Untuk apa? Bukankah jatuh cinta adalah sebuah proses? Akan ada sebab, akan ada hal yang membuatmu jatuh cinta. Dan ketika itu terjadi, semua telah terangkai indah dalam kerangka kehalalan, dalam ikatan pernikahan. Dan tak akan pernah ada ragu untuk katakana aku serahkan cintaku utuh tak tersentuh padamu dan untukmu (pasangantulangrusukmukelak).
Betapa sesak aku membacanya, sebuah tautan di facebook. Tak sabar hati ku ingin segera bicara padanya tentang hal ini. Namun bibirku kelu tak mampu berucap. Inilaht anda bahwa imanku memang lemah.
Aku takut dia tak mampu memahami apa yang ingin aku sampaikan. Aku takut dia kan kecewa dan tak menerima apa yang ingin aku sampaikan. Aku sangat bingung. Bimbang hati ini tuk katakan semuanya padanya.
Namun memang semuanya adalah salahku. Aku telah salah menentukan langkah di awal. Mengiyakan keinginannya untuk berpacaran denganku adalah kesalahan terbesarku. Aku tak mampu menjaga kesucian cinta yang Allah
titipkan padaku.
Jarak diantara kita memang jauh. Aku di JawaTimur,
tepatnya di kota Malang. Sedangkan dia di Bandung, Jawa Barat. Namun jarak bukanlah penghalang bagi kotornya hati, kesucian cinta yang ternodai oleh hubungan yang tidak
halal ini. Walau bagaimanapun pacaran jarak jauh tetaplah haram dimata Islam.
Akhirnya aku putuskan memberanikan diri mengutarakan semuanya, mengajaknya memperbaiki semuanya, kembal ikejalan-Nya, mencintai sesuai syar’i.
Ku
kirimkan sebuah
e-mail padanya.
Kepada:
akhy06@yahoo.com
Subjek:
Mari BicaraTentang Cinta dan Agama Kita.
Assalaamu’alaikum.
Wahai laki-laki yang sekarang selalu mengisi hari-hariku, mewarnai duniaku, dan hadir dalam celah kecil di hatiku. Marilah kita bicara tentang cinta dan agama kita.
Ku
bartanya padamu,
apakah kau mencintaiku? Aku yakin kau akan menjawab Ya. Ku bertanya lagi padamu, siapakah yang
paling engkau cintai antara aku dan agama kita? Aku pun sangat yakin kau akan memilih agama kita sebagai jawabannya. Dengan keyakinan akan hal itu, maka aku katakan padamu,
bahwa aku meninggalkanmu demi
agamaku, agama kita. Sebagaimana kau telah memilih agamamu yang paling kau cintai dibanding aku.
Adakah ayat-ayat-Nya yang
menghalalkan hubungan kita? Adakah hadits-hadits yang
membenarkan hubungan kita? Tidak ada bukan? Ya, tentu kau mengerti apa maksud pembicaraanku. Aku tak ingin berlama-lama dalam langkah salah ini, aku tak ingin menambah dosa. Sepertinya kita harus merelakan hubungan kita usai demi agama kita. Setujukah engkau? Sepahamkah kau denganku? Aku hanya ingin mengajakmu melangkah kejalan yang lebih benar.
Percayalah,
jika Allah menakdirkan kita berjodoh maka kita akan bersatu. Tentu dalam ikatan yang lebih indah nan suci, pernikahan yang
halal. Perkara jodoh hanya Allah yang tahu,
tak satupun dari kita yang
mengetahuinya. Kita
hanya perlu bersabar dan mempercayakan semuanya pada yang Maha Mengatur. Kita titipkan cinta ini pada Sang Maha Penjaga Cinta, agar cinta ini kan terjaga dengan baik. Maukah kau melakukannya? Ingat, demi agamamu,
agamaku, dan agama kita.
Aku mengajakmu untuk sama-sama menjaga cinta dan agama kita,
mencinta berlandaskan
agama, dan mengakhiri hubungan cinta demi agama kita. Ku akui memang berat, sakit hati ini. Air mata pun tak mampu ku bending lagi. Namun ku yakin inilah pilihan yang paling
tepat. Menanti saatnya tiba, dengan berjalan di atas jalan-Nya, istiqamah menjaga cinta. Tentu karena kita percaya bahwa tulang rusuk tak kan pernah tertukar, dan Allah tak pernah salah.
Cukup do’a sebagai komunikasi diantara kita. Jangan melampaui batas dari apa yang Allah
tetapkan, selagi kita tidak di ikat dengan ikatan yang selama itu pula kita tak berhak untuk memubazirkan perasaan itu. Aku tak mampu menjaga cinta ini, karena Allah
sebaik-baiknya penjaga,
maka kuserah kan padanya dan biarkan ia indah pada waktu yang di
tentukan-Nya.
Sudah satu minggu, satu bulan, sampai satu tahun ku menunggu balasan darinya. Namun, tak pernah ada namanya muncul di inbox e-mail ku. Entahlah, aku tak tahu mengapa dia tidak pernah membalas suratku. Prasangka-prasangka pun
berlalu lalang melintas di benak ku. Sejak saat itu, dia memang tak pernah mengirim SMS apalagi meneleponku. Begitupun aku, aku tidak mempunyai keberanian untuk hal itu. Mungkin dia sibuk dengan pekerjaannya, mungkin dia lupa atau belum sempat membuka e-mail nya sehingga tidak tahu bahwa aku telah mengirim pesan padanya. Ya, aku berusaha positive
thinking padanya. Meski terkadang prasangka buruk pun menghampiri. Kadang ku berpikir, mungkin dia telah membenciku, tak mau kenal lagidenganku, atau bahkan dia telah melupakanku. Namun, jauh di lubuk hatiku, aku masih yakin bahwa dia masih mencintaiku. Mungkin kepergiannya dengan cara menghilang seperti ini adalah caranya untuk memperbaiki semuanya. Bukankah aku yang mengajak dan memintanya? Bukankah aku yang menginginkan semuanya begini? Ku coba tenangkan hatiku sendiri.
Kepada:
ukhtyr02@ymail.com
Subjek:
Wa’alaikimussalaam.
Ku
tak mampu lagi berkata, terdiam. Hanya itu yang ku lakukan saat membaca suratmu. Terdiam dalam luka, sedih, dan bahagia. Hati ini luka karena tak sanggup menerima kenyataan pahit ini. Aku sedih karena ku sadar semuanya adalah salahku, ku yang tak mampu membimbingmu kejalan-Nya. Andai ku mencintaimu dalam diam, andai ku tak pernah mengutarakan dan tak mengumbar perasaan ini, andai ku tak mengajakmu menjalin hubungan ini, berpacaran. Andai, andai, dan andai. Sudahlah,
berandai-andai adalah bentuk dari penyesalanku. Namun kini ku bahagia, bahagia karena kau telah menyadarkan ku akan kesalahan ku selama ini, kekeliruan kita tehadap cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar